Aku tak bisa merasa nyaman, bahkan di detik-detik aku memejamkan mata. Tidak nyaman dengan diriku sendiri ketika melihat betapa heroiknya kawan-kawanku membangun diri mereka sendiri, menggedor-gedor, menjebol dinding waktu dan ruang dengan segenap asa, hasrat dan tenaga, sementara aku memencilkan diri di sini. Membuat goretan-goretan tulisan dan bermain dengan obsesi betapa epos itu harus dirangkum untuk dikisahkan kembali dan lagi dan lagi di waktu-waktu mendatang, di ruang-ruang yang lain, oleh generasi-generai yang lain, kepada generasi-generasi yang lain, dan seterusnya. Betapa tak nyaman aku saat tenggelam dalam ekstasi yang bergejolak di rangkaian epik chaos, epik nihil, epik konsistensi, epik pemberotakan yang sepanjang hidup diguratkan kawan-kawan di kota tercinta ini. Betapa aku tak nyaman ketika kisah-kisah itu melambungkanku tinggi, menyedotku ke palung terdalam, menghempas-hempasku dalam pusar gulungan angin yang liar, memasungku tiba-tiba di tengah belantara sendirian, memaksa kaki-kaki kurusku menapaki jalanan-jalanan asing yang tak pernah kukenal dan sepertinya tak akan pernah kutapaki lagi selamanya bersama matahari, bulan, bintang, hujan, debu, angin. Aku tak merasa nyaman dengan celotehan malaikat kecilku, tak nyaman dengan belaian bidadariku, tak nyaman dengan musik-musik yag mengiringiku menuliskan kisah ini.
Aku tak bisa merasa nyaman, bahkan di detik-detik aku kembali membuka mata di pagi hari yang cerah dan merdu oleh cicit burung setelah tidur dua jam-tiga jamku yang gelisah. Musik-musik bergaung-gaung di dinding ruang-ruang dalam diriku. Memenuhi jiwaku, mengajaknya lepas, mengajaknya mendobrak sisi-sisi lain dalam diriku, menghadirkan semuanya dalam satu waktu, memecah jiwaku berserakan, dan melontarkan serpihannya di pinggiran hari-hari yang kulewati sepanjang hidupku. Tak nyaman aku dengan warnanya yang kerap berubah setiap aku mengedipkan mata hingga tak tahu aku bagaimana bentuknya, apa warnanya, nada-beat-melodi-irama-distorsi-feedback, semua menggelungku seperti ular. Mencumbuku. Menjilati leherku, lidahnya menusuk lubang telingaku. Aku mengerang, menjerit. Ejakulasi. Lalu terpecah berantakan. Seperti juga jiwaku, terpisah, tak lengkap, kesepian, tak nyaman, membentuk barisan doa yang bertumpuk, bergulung, berebut untuk pertama terucap hingga lalu tak satu pun di antara mereka benar-benar terucap. Di dalam, mereka menusuk-nusuk relungku, memberontak ingin keluar, ingin meliar, ingin masuk ke kerumunan, ke keramaian, menyeret-nyeret diriku hinga terluka, berdarah-darah.
Aku benci keramaian, ruang sempit, dan pola berulang-ulang. Keramaian sedot energiku habis-habisan, membuatku berkunang-kunang dan pingsan. Ruang sempit memenjarakan indraku, membuatku satu dengan kondisi terendah dari diriku : materi, segumpal daging dan darah. Membatasi aku merengkuh alam, meleburkan diri bersamanya. Pola berulang menyungsangku dalam lingkaran matahari. Membuatku bagai roda, senantiasa berputar, sementara aku adalah pasak. Dan aku sangat tak nyaman lantaran kini aku ada di sana. Aku di kerumunan, di dalam diriku yang paling kecil, dan di dalam pola-pola menuju diriku yang berada di keramaian, dalam diriku yang paling kecil, dan dalam pola-pola menuju diriku yang berada di keramaian, dalam diriku yang paling kecil, dan dalam pola-pola menuju diriku ... Words playing me déjà vu…
Namun apa itu nyaman? Kamu yang sudah nyaman, maka tuntaslah ,Silakan mati duluan!
Bila ada sudah merasa nyaman dengan hidup di dunia ini silahkan mati duluan , karena di dunia ini kita tidak akan merasakan kenyamanan seperti di surga tuhan mu nanti , semua yang ada di dunia ini hanya fana belaka .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar